Rabu, 31 Juli 2013

GARIS BESAR CERITA MAHA BHARATA




Mahabharata merupakan kisah kilas balik yang dituturkan oleh Resi [[Wesampayana]] untuk Maharaja [[Janamejaya]] yang gagal mengadakan upacara korban ular. Sesuai dengan permohonan Janamejaya, kisah tersebut merupakan kisah raja-raja besar yang berada di garis keturunan Maharaja [[Yayati]], [[Bharata (raja)|Bharata]], dan [[Kuru (raja)|Kuru]], yang tak lain merupakan kakek moyang Maharaja [[Janamejaya]]. Kemudian Kuru menurunkan raja-raja [[Hastinapura]] yang menjadi tokoh utama Mahabharata. Mereka adalah [[Santanu]], [[Chitrāngada]], [[Wicitrawirya]], [[Dretarastra]], [[Pandu]], [[Yudistira]], [[Parikesit]] dan [[Janamejaya]].

=== Para Raja India Kuno ===
Mahabharata banyak memunculkan nama raja-raja besar pada zaman India Kuno seperti [[Bharata (raja)|Bharata]], [[Kuru (raja)|Kuru]], [[Parikesit]] (''Parikshita''), dan [[Janamejaya]]. Mahabharata merupakan kisah besar keturunan Bharata, dan Bharata adalah salah satu raja yang menurunkan tokoh-tokoh utama dalam Mahabharata.

Kisah Sang [[Bharata (raja)|Bharata]] diawali dengan pertemuan Raja [[Duswanta]] dengan [[Sakuntala]]. Raja Duswanta adalah seorang raja besar dari Chandrawangsa keturunan [[Yayati]], menikahi Sakuntala dari pertapaan Bagawan Kanwa, kemudian menurunkan Sang [[Bharata (raja)|Bharata]], raja legendaris. Sang Bharata lalu menaklukkan daratan India Kuno. Setelah ditaklukkan, wilayah kekuasaanya disebut [[Bharatawarsha]] yang berarti wilayah kekuasaan Maharaja Bharata (konon meliputi [[Asia Selatan
Sang Bharata menurunkan Sang Hasti, yang kemudian mendirikan sebuah pusat pemerintahan bernama [[Hastinapura]]. Sang Hasti menurunkan Para Raja Hastinapura. Dari keluarga tersebut, lahirlah Sang [[Kuru (raja)|Kuru]], yang menguasai dan menyucikan sebuah daerah luas yang disebut [[Kurukshetra]] (terletak di negara bagian [[Haryana]], [[India|India Utara]]). Sang Kuru menurunkan [[Dinasti Kuru]] atau [[Dinasti Kuru|Wangsa Kaurawa]]. Dalam Dinasti tersebut, lahirlah Pratipa, yang menjadi ayah Prabu [[Santanu]], leluhur [[Pandawa]] dan [[Korawa]].

Kerabat Wangsa Kaurawa (Dinasti Kuru) adalah [[Yadawa|Wangsa Yadawa]], karena kedua Wangsa tersebut berasal dari leluhur yang sama, yakni Maharaja [[Yayati]], seorang kesatria dari Wangsa Chandra atau Dinasti Soma, keturunan Sang [[Pururawa]]. Dalam silsilah Wangsa Yadawa, lahirlah Prabu [[Basudewa]], Raja di [[Kerajaan Surasena]], yang kemudian berputera Sang [[Kresna]], yang mendirikan [[Kerajaan Dwaraka]]. Sang Kresna dari Wangsa Yadawa bersaudara sepupu dengan [[Pandawa]] dan [[Korawa]] dari Wangsa Kaurawa.

PRABU SANTANU
Prabu Santanu]] adalah seorang raja mahsyur dari garis keturunan [[Kuru (raja)|Sang Kuru]], berasal dari [[Hastinapura]]. Ia menikah dengan [[Dewi Gangga]] yang dikutuk agar turun ke dunia, namun Dewi Gangga meninggalkannya karena Sang Prabu melanggar janji pernikahan. Hubungan Sang Prabu dengan Dewi Gangga sempat membuahkan anak yang diberi nama [[Bisma|Dewabrata]] atau [[Bisma]]. Setelah ditinggal Dewi Gangga, akhirnya Prabu Santanu menjadi duda.

Beberapa tahun kemudian, Prabu Santanu melanjutkan kehidupan berumah tangga dengan menikahi Dewi [[Satyawati]], puteri nelayan. Dari hubungannya, Sang Prabu berputera Sang [[Citrānggada]] dan [[Wicitrawirya]]. Citrānggada wafat di usia muda dalam suatu pertempuran, kemudian ia digantikan oleh adiknya yaitu Wicitrawirya. Wicitrawirya juga wafat di usia muda dan belum sempat memiliki keturunan. Atas bantuan Resi [[Byasa]], kedua istri Wicitrawirya, yaitu [[Ambika]] dan [[Ambalika]], melahirkan masing-masing seorang putera, nama mereka [[Pandu]] (dari Ambalika) dan [[Dretarastra]] (dari Ambika).

[[Dretarastra]] terlahir buta, maka tahta [[Hastinapura]] diserahkan kepada [[Pandu]], adiknya. Pandu menikahi [[Kunti]] kemudian Pandu menikah untuk yang kedua kalinya dengan [[Madrim]], namun akibat kesalahan Pandu pada saat memanah seekor kijang yang sedang kasmaran, maka kijang tersebut mengeluarkan (Supata=Kutukan) bahwa Pandu tidak akan merasakan lagi hubungan suami istri, dan bila dilakukannya, maka Pandu akan mengalami ajal. Kijang tersebut kemudian mati dengan berubah menjadi wujud aslinya yaitu seorang pendeta.

Kemudian karena mengalami kejadian buruk seperti itu, Pandu lalu mengajak kedua istrinya untuk bermohon kepada Hyang Maha Kuasa agar dapat diberikan anak. Lalu Batara guru mengirimkan Batara Dharma untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahir anak yang pertama yaitu Yudistira Kemudian Batara Guru mengutus Batara Indra untuk membuahi Dewi Kunti shingga lahirlah Harjuna, lalu Batara Bayu dikirim juga untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahirlah Bima, dan yang terakhir, Batara Aswin dikirimkan untuk membuahi Dewi Madrim, dan lahirlah Nakula dan Sadewa.

Kelima putera Pandu tersebut dikenal sebagai [[Pandawa]]. Dretarastra yang buta menikahi [[Gandari]], dan memiliki seratus orang putera dan seorang puteri yang dikenal dengan istilah [[Korawa]]. Pandu dan Dretarastra memiliki saudara bungsu bernama [[Widura]]. Widura memiliki seorang anak bernama [[Sanjaya (Mahabharata)|Sanjaya]], yang memiliki mata batin agar mampu melihat masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.

Keluarga [[Dretarastra]], [[Pandu]], dan [[Widura]] membangun jalan cerita Mahabharata.

=== Pandawa dan Korawa ===
[[Pandawa]] dan [[Korawa]] merupakan dua kelompok dengan sifat yang berbeda namun berasal dari leluhur yang sama, yakni [[Kuru (raja)|Kuru]] dan [[Bharata (raja)|Bharata]]. Korawa (khususnya [[Duryodana]]) bersifat licik dan selalu iri hati dengan kelebihan Pandawa, sedangkan Pandawa bersifat tenang dan selalu bersabar ketika ditindas oleh sepupu mereka. Ayah para Korawa, yaitu [[Dretarastra]], sangat menyayangi putera-puteranya. Hal itu membuat ia sering dihasut oleh iparnya yaitu [[Sangkuni]], beserta putera kesayangannya yaitu [[Duryodana]], agar mau mengizinkannya melakukan rencana jahat menyingkirkan para Pandawa.

Pada suatu ketika, [[Duryodana]] mengundang [[Kunti]] dan para [[Pandawa]] untuk liburan. Di sana mereka menginap di sebuah rumah yang sudah disediakan oleh Duryodana. Pada malam hari, rumah itu dibakar. Namun para Pandawa diselamatkan oleh [[Bima (tokoh Mahabharata)|Bima]] sehingga mereka tidak terbakar hidup-hidup dalam rumah tersebut. Usai menyelamatkan diri, Pandawa dan Kunti masuk hutan. Di hutan tersebut Bima bertemu dengan [[rakshasa]] [[Hidimba]] dan membunuhnya, lalu menikahi adiknya, yaitu rakshasi [[Hidimbi]]. Dari pernikahan tersebut, lahirlah [[Gatotkaca]].

Setelah melewati hutan rimba, [[Pandawa]] melewati [[Kerajaan Panchala]]. Di sana tersiar kabar bahwa Raja [[Drupada]] menyelenggarakan [[sayembara]] memperebutkan Dewi [[Dropadi]]. [[Karna]] mengikuti sayembara tersebut, tetapi ditolak oleh Dropadi. Pandawa pun turut serta menghadiri sayembara itu, namun mereka berpakaian seperti kaum [[brahmana]].

Pandawa ikut sayembara untuk memenangkan lima macam sayembara, Yudistira untuk memenangkan sayembara filsafat dan tatanegara, [[Arjuna]] untuk memenangkan sayembara senjata Panah, [[Bima]] memenangkan sayembara Gada dan [[Nakula]] - [[Sadewa]] untuk memenangkan sayembara senjata Pedang. Pandawa berhasil melakukannya dengan baik untuk memenangkan sayembara.

Dropadi harus menerima Pandawa sebagai suami-suaminya karena sesuai janjinya siapa yang dapat memenangkan sayembara yang dibuatnya itu akan jadi suaminya walau menyimpang dari keinginannya yaitu sebenarnya yang diinginkan hanya seorang Satriya.

Setelah itu perkelahian terjadi karena para hadirin menggerutu sebab kaum brahmana tidak selayaknya mengikuti sayembara. Pandawa berkelahi kemudian meloloskan diri. sesampainya di rumah, mereka berkata kepada ibunya bahwa mereka datang membawa hasil meminta-minta. Ibu mereka pun menyuruh agar hasil tersebut dibagi rata untuk seluruh saudaranya. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa anak-anaknya tidak hanya membawa hasil meminta-minta, namun juga seorang wanita. Tak pelak lagi, [[Dropadi]] menikahi kelima Pandawa.

Sabhaparwa}}
Agar tidak terjadi pertempuran sengit, [[Kerajaan Kuru]] dibagi dua untuk dibagi kepada [[Pandawa]] dan [[Korawa]]. Korawa memerintah Kerajaan Kuru induk (pusat) dengan ibukota [[Hastinapura]], sementara Pandawa memerintah Kerajaan Kurujanggala dengan ibukota [[Indraprastha]]. Baik Hastinapura maupun Indraprastha memiliki istana megah, dan di sanalah [[Duryodana]] tercebur ke dalam kolam yang ia kira sebagai lantai, sehingga dirinya menjadi bahan ejekan bagi [[Dropadi]]. Hal tersebut membuatnya bertambah marah kepada para Pandawa.

Untuk merebut kekayaan dan kerajaan [[Yudistira]], [[Duryodana]] mengundang [[Yudistira]] untuk main dadu ini atas ide [[Sangkuni]], hal ini dilakukan sebenarnya untuk menipu Pandawa mengundang Yudistira untuk main dadu dengan taruhan. Yudistira yang gemar main dadu tidak menolak undangan tersebut dan bersedia datang ke [[Hastinapura]].

Pada saat permainan dadu, Duryodana diwakili oleh [[Sangkuni]] sebagai bandar dadu yang memiliki kesaktian untuk berbuat curang. Permulaan permainan taruhan senjata perang, taruhan pemainan terus meningkat menjadi taruhan harta kerajaan, selanjutnya prajurit dipertaruhkan, dan sampai pada puncak permainan Kerajaan menjadi taruhan, Pandawa kalah habislah semua harta dan kerajaan Pandawa termasuk saudara juga dipertaruhkan dan yang terakhir istrinya Dropadi dijadikan taruhan.

Dalam peristiwa tersebut, karena Dropadi sudah menjadi milik Duryodana, pakaian [[Dropadi]] ditarik oleh [[Dursasana]] karena sudah menjadi harta Duryodana sejak Yudistira kalah main dadu, namun usaha tersebut tidak berhasil membuka pakaian [[Dropadi]], karena setiap pakaian dibuka dibawah pakaian ada pakaian lagi begitu terus tak habisnya berkat pertolongan gaib dari Sri [[Kresna]].

Karena istrinya dihina, [[Bima (tokoh Mahabharata)|Bima]] bersumpah akan membunuh Dursasana dan meminum darahnya kelak. Setelah mengucapkan sumpah tersebut, [[Dretarastra]] merasa bahwa malapetaka akan menimpa keturunannya, maka ia mengembalikan segala harta Yudistira yang dijadikan taruhan.

[[Duryodana]] yang merasa kecewa karena [[Dretarastra]] telah mengembalikan semua harta yang sebenarnya akan menjadi miliknya, menyelenggarakan permainan dadu untuk yang kedua kalinya. Kali ini, siapa yang kalah harus mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun, setelah itu hidup dalam masa penyamaran selama setahun, dan setelah itu berhak kembali lagi ke kerajaannya. Untuk yang kedua kalinya, [[Yudistira]] mengikuti permainan tersebut dan sekali lagi ia kalah. Karena kekalahan tersebut, [[Pandawa]] terpaksa meninggalkan kerajaan mereka selama 12 tahun dan hidup dalam masa penyamaran selama setahun.

Setelah masa pengasingan habis dan sesuai dengan perjanjian yang sah, [[Pandawa]] berhak untuk mengambil alih kembali kerajaan yang dipimpin [[Duryodana]]. Namun [[Duryodana]] bersifat jahat. Ia tidak mau menyerahkan kerajaan kepada Pandawa, walau seluas ujung jarum pun. Hal itu membuat kesabaran [[Pandawa]] habis. Misi damai dilakukan oleh Sri [[Kresna]], namun berkali-kali gagal. Akhirnya, pertempuran tidak dapat dielakkan lagi.

Perang di Kurukshetra}}
Pandawa berusaha mencari sekutu dan ia mendapat bantuan pasukan dari [[Kerajaan Kekaya]], [[Kerajaan Matsya]], [[Kerajaan Pandya]], [[Kerajaan Chola]], [[Kerajaan Kerala]], [[Kerajaan Magadha]], [[Yadawa|Wangsa Yadawa]], [[Kerajaan Dwaraka]], dan masih banyak lagi. Selain itu para ksatria besar di [[Bharatawarsha]] seperti misalnya [[Drupada]], [[Satyaki]], [[Drestadyumna]], [[Srikandi]], [[Wirata]], dan lain-lain ikut memihak Pandawa. Sementara itu [[Duryodana]] meminta [[Bisma]] untuk memimpin pasukan [[Korawa]] sekaligus mengangkatnya sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa. Korawa dibantu oleh Resi [[Drona]] dan putranya [[Aswatama]], kakak ipar para Korawa yaitu [[Jayadrata]], serta guru [[Krepa]], [[Kretawarma]], [[Salya]], [[Sudaksina]], [[Burisrawas]], [[Bahlika]], [[Sangkuni]], [[Karna]], dan masih banyak lagi.

Pertempuran berlangsung selama 18 hari penuh. Dalam pertempuran itu, banyak ksatria yang gugur, seperti misalnya [[Abimanyu]], [[Drona]], [[Karna]], [[Bisma]], [[Gatotkaca]], [[Irawan]], Raja [[Wirata]] dan puteranya, [[Bhagadatta]], [[Susharma]], [[Sangkuni]], dan masih banyak lagi. Selama 18 hari tersebut dipenuhi oleh pertumpahan darah dan pembantaian yang mengenaskan. Pada akhir hari kedelapan belas, hanya sepuluh ksatria yang bertahan hidup dari pertempuran, mereka adalah: [[Pandawa|Lima Pandawa]], [[Yuyutsu]], [[Satyaki]], [[Aswatama]], [[Krepa]] dan [[Kretawarma]].

 Penerus Wangsa Kuru
Setelah perang berakhir, [[Yudistira]] dinobatkan sebagai Raja [[Hastinapura]]. Setelah memerintah selama beberapa lama, ia menyerahkan tahta kepada cucu [[Arjuna]], yaitu [[Parikesit]]. Kemudian, Yudistira bersama [[Pandawa]] dan [[Dropadi]] mendaki gunung [[Himalaya]] sebagai tujuan akhir perjalanan mereka. Di sana mereka meninggal dan mencapai surga. Parikesit memerintah [[Kerajaan Kuru]] dengan adil dan bijaksana. Ia menikahi Madrawati dan memiliki putera bernama [[Janamejaya]]. Janamejaya menikahi Wapushtama (Bhamustiman) dan memiliki putera bernama Satanika. Satanika berputera Aswamedhadatta. Aswamedhadatta dan keturunannya kemudian memimpin Kerajaan Wangsa Kuru di [[Hastinapura]].


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar